Rabu, 31 Juli 2013

"Surau Firdaus Dalam Jebakan Ukhuwah"



Disanalah Kutemukan Ukhuwah…

 


“ Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan”

          Kampus Sekarang nampak sepi, gelap, dan dingin, persis seperti rumah tak berpenghuni. Hanya dibeberapa tempat masih lumayan ramai, seperti dihimpunan atau di tempat – tempat strategis untuk nongkrong lainnya. Begitu juga dengan mata ini, walaupun kondisi badan agak lelah karena seharian disibukkan dg ragam rutinitas, namun belum juga bisa tidur.
          Dan akhirnya mata ini tertuju pada buku putih bercorak hijau yang sepertinya sudah agak lama tidak kubuka lagi. Sembari membukanya, kubuka halaman demi halaman buku itu, buku yang cukup menginspirasiku untuk tetap bergerak, buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim buku pinjaman surau firdaus. Lalu sejurus kemudian ingatanku melayang ke masa lalu, saat diri ini pertama kali menginjakkan kaki di kampus merah, kampus yang dulunya terkenal karena biaya masuknya yang murah.
          Dan mengingat kembali akan masa datangnya cahaya hidayah itu, hati ini terasa rindu sekali berada pada masa itu. Mengingat pada sosok yang ketika itu, tiga tahun yang lalu, hanyalah seorang sosok sederhana yang ramah dan santun, dibawanya tas kecil yg ntah apa isinya.
          Setiap pekan, sebelum jam delapan malam, dirinya selalu sabar dan setia menunggui kami di pojok masjid kampus, ditemani lampu yang tak terlalu terang, lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah acara itu. Sebuah lingkaran kecil dengan enam orang peserta dan satu pemandu. Dengan sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya. Urut. Dan menurutku, ia adalah orang yang paling sabar yang pernah kutemui dikampus ini. Yang dengan telaten membimbing kami, yang masih penuh dengan lumuran kekotoran dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing kepada cahaya hidayah Allah. Walaupun kadang, dan bahkan sering adanya kami membuat beliau kecewa, dating telat, pada saat acara sering ngantuk, dan lain sebagainya. Tetapi sekali lagi, beliau tetap tidak marah. Tetap sabar dan telaten mengajari kami tentang islam secara syumul.
          Ah, aku rindu orang ini. Aku rindu sentuhan lembutnya ketika membangunkan pada saat kami tertidur disela – sela materi disampaikan. Aku rindu suara halusnya ketika mengingatkan kepada kami “Akhi, mengingatkan sekarang jadwalnya liqo ya. Ditunggu di Masjid****, ujarnya lembut. Aku rindu bersama dengannya. Dia adalah guru pertamaku. Yang membimbing menuju hakikat muslim sejati. Semoga engkau dalam lindunganNya selalu, ustadz.
Ukhuwah itulah yang akan kuceritakan…
          Kebersamaan. Atau bahasa kerennya adalah ukhuwah. Naaah… Persaudaraanlah itu kutemukan disini Surau Firdaus. Kebersamaan dalam persaudaraan yang berlandaskan iman selalu indah. Seperti yang diungkapkan dengan bahasa yang lembut dan mengalir oleh Ustadz Salim A Fillah dibukunya, Saksikan Bahwa aku seorang Muslim, yang juga sedang kubaca hari ini, bahwa keimanan benar – benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Selalu indah kebersamaan bersama orang – orang beriman, seperti kata salah satu teman dalam tulisannya di jejaring sosial, persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Dan memang benar adanya, kebersamaan dalam bingkai keimanan akan selalu indah, nikmat, karena didalamnya sudah tersemai bibit keberkahan dalam do’a – do’a ukhuwah yang dilantunkan setiap pagi dan petang. Begitulah kebersamaan.

“ sesungguhnya orang – orang yang beriman dan beramal shalih, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih sayang.” (Maryam 96)

          Ya, bersamaan dengan kata – kata yang mengalir indah di buku tersebut, memori ini kembali terbang ka masa lalu, saat dimana pertama kali berjumpa dengan wajah – wajah lelah namun memancarkan cahaya keikhlasan. Ya, bersama orang – orang itu, bersama dalam naungan jalan dakwah ini serasa begitu indah. Teringat saat rapat2 disore harinya, kegiatan2nya.
“Perumpamaan orang – orang beriman dalam cinta mencintai, sa
ling menyayangi, dan bantu-membantu diantara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur dimalam hari, dan menggigil demam.” (HR Muslim, dari An Nu’mam Ibn Basyir)
Cerita tentang kebersamaan bersama orang – orang beriman, masih menghiasi lamunanku hari ini.

          Ada sebuah kalimat yang sangat menginspirasi dari petikan kata penuh makna Ustadz Salim A Fillah, tentang hati Anas bin Malik yang berbunga – bunga ketika mendengar kalimat yang diucapkan Rasulullah. Yakni kalimat bahwa seseorang akan bersama dengan yang dicintainya di akhirat nanti. Kata Anas, “Aku bisa berharap untuk membersamai Rasulullah, Abu Bakar, dan ‘Umar di surga nanti. Karena, meski amalanku tak sebaik amalan mereka, tetapi aku sangat mencintai mereka…” Ah indahnya dalam naungan ukhuwah saudara seiman.
         
          Pun demikian denganku. Suatu ketika dalam forum bersama saudara – saudara tercinta, dalam forum pekanan, saat yang dimana adalah penantian bagi sebagian aktivis dakwah, namun justru hanya rutinitas biasa bagi aktivis dakwah yang lain, saat dimana kami, dengan beberapa orang mendengarkan materi dari ustadz tercinta. Dengan ditemani semangka, gorengan, segelas teh hangat bermerek ukhuwah karya saudara tercinta, kami mulai mendengarkan sang ustadz menyampaikan materi sambil sesekali menikmati hangatnya teh ukhuwah.
         
          Kebetulan materi malam itu adalah ukhuwah. Tepat sekali ketika dibincangkan di tulisan ini. Saat mendengarkan materi, sambil sesekali melihat wajah saudara tercinta, ada yang matanya memerah karena kecapekan, ada yang teklak – tekluk, karena mengantuk, ada yang dengan seriusnya mendengarkan, hingga tak terasa matanya terpejam, ada yang senyam – senyum sambil sesekali memegangi HP melihat ada sms masuk atau tidak, (Hmmm, siapa ya), ada jg yang tetap serius mendengarkan materi dari sang pemandu, dan berbagai keunikan – keunikan lainnya yang membuat bibir ini tak kuasa untuk menahan senyum.

          Lalu singkat cerita, materi malam itu selesai, setelah membaca do’a Rabithah, seperti biasa kami pun berpelukan satu sama lain. Dan tak lama berselang setelah sampai dirumah, HP berdering dan ada sms masuk sebelum mata ini terpejam. SMS itu dari saudara selingkaran. Bunyinya “Ana Ukhibuka Fillah…”, dan seterusnya. Ya, ukhuwah menurut kami dan beberapa teman kami, saat membersamai dalam satu lingkaran itu, adalah saling siram menyiram, dorong – mendorong dalam derasnya air terjun Semirang, Ungaran.
          Lalu selanjutnya saling memberikan pesan sms, Ana Ukhibuka Fillah. Lalu selanjutnya saling bercerita dari hati kehati, menceritakan hal yang paling menonjol yang dimiliki saudaranya. Lalu setelah hal yang menonjol itu diceritakan, tersipu dan memerahlah wajah si fulan. Lalu selanjutnya kita dengarkan kata – kata bijak dari orang bijak ini memaknai ukhuwah, atau kebersamaan. Bersama orang – orang beriman.

“Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, “Mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar – mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh Para Nabi dan para Syuhada” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn Jabal)

          Ingin rasanya aku kembali ke masa itu, kembali membersamai saudara – saudara tercinta, kembali merasakan nikmatnya kebersamaan dalam perjuangan, rindu kembali membersamai sosok yang telah mengajarkan kepadaku tentang arti sebuah kesabaran, keikhlasan, kesungguhan, komitmen, konsistensi, kesemangatan dalam berjuang menyeru kepada kebaikan. Dan memang kebersamaan tersebut telah menjadikan satu kenangan terindah yang tidak akan pernah kulupakan.

          Aku hanya bisa berdo’a kepada Allah, semoga keistiqomahan dalam perjuangan ini selalu mengiringi langkah – langkah mereka saat ini dan seterusnya, selamanya. Kalau dulu mereka adalah para pejuang – pejuang tangguh yang rela mewakafkan diri sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah, semoga saat inipun mereka tetap tangguh, dan lebih tangguh dalam berjuang. Dan kitapun nanti semoga, berjumpa kembali dan melepas kerinduan yang mendalam itu di surganya Allah Arrahman.

          Tentu saat ini walaupun fisik ini berjauhan, tetapi ikatan yang bernama ukhuwah ini akan tetap terpatri dalam hati yang terdalam, akan tetap terukir indah dalam pahatan peradaban. Dan sebentar lagi, hasil yang telah disemai dahulu, walaupun kecil, akan segera kita nikmati hasilnya, dengan kekuatan kebersamaan, walaupun jauh, tetapi aura kemenangan akan senantiasa terpancar seiring gerak langkah kaki kita. Islam akan tegak dengan setegak – tegaknya, dan ternyata saudaraku, itu adalah salah satunya perjuangan engkau, walaupun kecil, hanya membina, tetapi itu berarti engkau telah mempersiapkan generasi terbaik untuk kejayaan Islam.

          Cerita tentang kebersamaan masih belum usai. Cerita tentang hangatnya ukhuwah masih akan terus berlanjut. Cerita tentang membersamai dalam perjuangan, merenda dan memintal benang – benang peradaban bersama orang – orang yang ikhlas membawa misi ini, masih akan terus berlanjut sampai kapanpun. Karena setelah kita memaknai bahwa bersama itu adalah bersaudara, kebersamaan yang penuh dengan energi persaudaraan dan getaran cinta akan memuliakan dirinya, selanjutnya bersama artinya berjuang bersama – sama dalam ikatan akidah yang selanjutnya mengikrarkan sebuah perjuangan mulia menegakkan akidah itu. Akupun jadi berfikir, kalau orang – orang yang mempunyai akidah muslim ini bisa bersatu, maka tidak akan ada lagi ketakutan – ketakutan melawan cengkeraman pengaruh Yahudi laknatullah alaihi.
         
          Dan inilah yang kemudian ditakutkan oleh Yahudi, yaitu orang – orang muslim itu menghimpun kekuatan dalam nanungan cinta dan ukhuwah. Dan ternyata itu sangat sulit setidaknya sulit buatku, karena untuk mencapai tahap itu kitapun sepertinya harus melewati fase awal dari perjuangan, yakni melawan nafsu diri agar mampu bersabar dalam kebersamaan. Dan untuk selanjutnya, biarkan ukhuwah yang akan menuntun kita, aku, engkau dan semua yang menhadirkan cinta dalam hati terhadap saudara seiman ketangga kemuliaan yang tertinggi, yang akan memuliakan kita dan membuat hidup kita lebih ceria. Karena kebersamaan dalam persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji.
          Diakhir tulisan ini, sebagai pengiring dalam kebersamaan yang indah, mari kita bersenandung dengan merdunya suara dari brother, untukmu teman. Semoga kebersamaan ini akan tetap abadi, dan akan menjadi cerita indah suatu ketika, antara aku, dan engkau, wahai saudaraku di kampus konservasi Unnes.

Disini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Special For Firdaus)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar