Disanalah Kutemukan Ukhuwah…
“ Suatu hari nanti saat semua telah menjadi masa lalu, aku ingin berada di antara mereka, yang bercerita tentang perjuangan yang indah, dimana kita, sang pejuang itu sendiri. Tak pernah kehabisan energi tuk terus bergerak, meski terkadang godaan tuk berhenti atau bahkan berpaling arah begitu menggiurkan”
Kampus Sekarang nampak sepi, gelap, dan dingin, persis seperti rumah tak berpenghuni. Hanya dibeberapa tempat masih lumayan ramai, seperti dihimpunan atau di tempat – tempat strategis untuk nongkrong lainnya. Begitu juga dengan mata ini, walaupun kondisi badan agak lelah karena seharian disibukkan dg ragam rutinitas, namun belum juga bisa tidur.
Dan akhirnya mata ini tertuju pada buku putih
bercorak hijau yang sepertinya sudah agak lama tidak kubuka lagi. Sembari
membukanya, kubuka halaman demi halaman buku itu, buku yang cukup
menginspirasiku untuk tetap bergerak, buku Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim
buku pinjaman surau firdaus. Lalu sejurus kemudian ingatanku melayang ke masa
lalu, saat diri ini pertama kali menginjakkan kaki di kampus merah, kampus yang
dulunya terkenal karena biaya masuknya yang murah.
Dan mengingat kembali akan masa datangnya cahaya
hidayah itu, hati ini terasa rindu sekali berada pada masa itu. Mengingat pada
sosok yang ketika itu, tiga tahun yang lalu, hanyalah seorang sosok sederhana
yang ramah dan santun, dibawanya tas kecil yg ntah apa isinya.
Setiap pekan, sebelum jam delapan malam, dirinya
selalu sabar dan setia menunggui kami di pojok masjid kampus, ditemani lampu
yang tak terlalu terang, lalu setelah satu demi satu hadir, dimulailah acara
itu. Sebuah lingkaran kecil dengan enam orang peserta dan satu pemandu. Dengan
sabar dan tekun ia sampaikan materi demi materi setiap pekannya. Urut. Dan
menurutku, ia adalah orang yang paling sabar yang pernah kutemui dikampus ini.
Yang dengan telaten membimbing kami, yang masih penuh dengan lumuran kekotoran
dan kegelapan jahiliyah, untuk kemudian membimbing kepada cahaya hidayah Allah.
Walaupun kadang, dan bahkan sering adanya kami membuat beliau kecewa, dating
telat, pada saat acara sering ngantuk, dan lain sebagainya. Tetapi sekali lagi,
beliau tetap tidak marah. Tetap sabar dan telaten mengajari kami tentang islam
secara syumul.
Ah, aku rindu
orang ini. Aku rindu sentuhan lembutnya ketika membangunkan pada saat kami
tertidur disela – sela materi disampaikan. Aku rindu suara halusnya ketika
mengingatkan kepada kami “Akhi, mengingatkan sekarang jadwalnya liqo ya.
Ditunggu di Masjid****, ujarnya lembut. Aku rindu bersama dengannya. Dia adalah
guru pertamaku. Yang membimbing menuju hakikat muslim sejati. Semoga engkau
dalam lindunganNya selalu, ustadz.
Ukhuwah itulah yang akan kuceritakan…
Kebersamaan. Atau bahasa kerennya adalah ukhuwah. Naaah… Persaudaraanlah itu kutemukan disini Surau Firdaus. Kebersamaan dalam persaudaraan yang berlandaskan iman selalu indah. Seperti yang diungkapkan dengan bahasa yang lembut dan mengalir oleh Ustadz Salim A Fillah dibukunya, Saksikan Bahwa aku seorang Muslim, yang juga sedang kubaca hari ini, bahwa keimanan benar – benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Selalu indah kebersamaan bersama orang – orang beriman, seperti kata salah satu teman dalam tulisannya di jejaring sosial, persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Dan memang benar adanya, kebersamaan dalam bingkai keimanan akan selalu indah, nikmat, karena didalamnya sudah tersemai bibit keberkahan dalam do’a – do’a ukhuwah yang dilantunkan setiap pagi dan petang. Begitulah kebersamaan.
Ukhuwah itulah yang akan kuceritakan…
Kebersamaan. Atau bahasa kerennya adalah ukhuwah. Naaah… Persaudaraanlah itu kutemukan disini Surau Firdaus. Kebersamaan dalam persaudaraan yang berlandaskan iman selalu indah. Seperti yang diungkapkan dengan bahasa yang lembut dan mengalir oleh Ustadz Salim A Fillah dibukunya, Saksikan Bahwa aku seorang Muslim, yang juga sedang kubaca hari ini, bahwa keimanan benar – benar telah mengikat hati para hamba Allah dalam kasih sayang yang menggetarkan. Selalu indah kebersamaan bersama orang – orang beriman, seperti kata salah satu teman dalam tulisannya di jejaring sosial, persaudaraan itu sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh janji. Dan memang benar adanya, kebersamaan dalam bingkai keimanan akan selalu indah, nikmat, karena didalamnya sudah tersemai bibit keberkahan dalam do’a – do’a ukhuwah yang dilantunkan setiap pagi dan petang. Begitulah kebersamaan.
“ sesungguhnya orang – orang yang beriman dan
beramal shalih, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam hati mereka rasa kasih
sayang.” (Maryam 96)
Ya, bersamaan
dengan kata – kata yang mengalir indah di buku tersebut, memori ini kembali
terbang ka masa lalu, saat dimana pertama kali berjumpa dengan wajah – wajah
lelah namun memancarkan cahaya keikhlasan. Ya, bersama orang – orang itu,
bersama dalam naungan jalan dakwah ini serasa begitu indah. Teringat saat
rapat2 disore harinya, kegiatan2nya.
“Perumpamaan orang – orang beriman dalam cinta mencintai, saling menyayangi, dan bantu-membantu diantara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur dimalam hari, dan menggigil demam.” (HR Muslim, dari An Nu’mam Ibn Basyir)
Cerita tentang kebersamaan bersama orang – orang beriman, masih menghiasi lamunanku hari ini.
“Perumpamaan orang – orang beriman dalam cinta mencintai, saling menyayangi, dan bantu-membantu diantara sesamanya laksana sebuah jasad. Apabila salah satu bagiannya sakit, yang lain tiada bisa tidur dimalam hari, dan menggigil demam.” (HR Muslim, dari An Nu’mam Ibn Basyir)
Cerita tentang kebersamaan bersama orang – orang beriman, masih menghiasi lamunanku hari ini.
Ada sebuah
kalimat yang sangat menginspirasi dari petikan kata penuh makna Ustadz Salim A
Fillah, tentang hati Anas bin Malik yang berbunga – bunga ketika mendengar
kalimat yang diucapkan Rasulullah. Yakni kalimat bahwa seseorang akan bersama
dengan yang dicintainya di akhirat nanti. Kata Anas, “Aku bisa berharap untuk
membersamai Rasulullah, Abu Bakar, dan ‘Umar di surga nanti. Karena, meski
amalanku tak sebaik amalan mereka, tetapi aku sangat mencintai mereka…” Ah
indahnya dalam naungan ukhuwah saudara seiman.
Pun demikian
denganku. Suatu ketika dalam forum bersama saudara – saudara tercinta, dalam
forum pekanan, saat yang dimana adalah penantian bagi sebagian aktivis dakwah,
namun justru hanya rutinitas biasa bagi aktivis dakwah yang lain, saat dimana
kami, dengan beberapa orang mendengarkan materi dari ustadz tercinta. Dengan
ditemani semangka, gorengan, segelas teh hangat bermerek ukhuwah karya saudara
tercinta, kami mulai mendengarkan sang ustadz menyampaikan materi sambil
sesekali menikmati hangatnya teh ukhuwah.
Kebetulan
materi malam itu adalah ukhuwah. Tepat sekali ketika dibincangkan di tulisan
ini. Saat mendengarkan materi, sambil sesekali melihat wajah saudara tercinta,
ada yang matanya memerah karena kecapekan, ada yang teklak – tekluk, karena
mengantuk, ada yang dengan seriusnya mendengarkan, hingga tak terasa matanya
terpejam, ada yang senyam – senyum sambil sesekali memegangi HP melihat
ada sms masuk atau tidak, (Hmmm, siapa ya), ada jg yang tetap serius
mendengarkan materi dari sang pemandu, dan berbagai keunikan – keunikan lainnya
yang membuat bibir ini tak kuasa untuk menahan senyum.
Lalu singkat
cerita, materi malam itu selesai, setelah membaca do’a Rabithah, seperti biasa
kami pun berpelukan satu sama lain. Dan tak lama berselang setelah sampai
dirumah, HP berdering dan ada sms masuk sebelum mata ini terpejam. SMS itu dari
saudara selingkaran. Bunyinya “Ana Ukhibuka Fillah…”, dan seterusnya. Ya,
ukhuwah menurut kami dan beberapa teman kami, saat membersamai dalam satu
lingkaran itu, adalah saling siram menyiram, dorong – mendorong dalam derasnya
air terjun Semirang, Ungaran.
Lalu
selanjutnya saling memberikan pesan sms, Ana Ukhibuka Fillah. Lalu selanjutnya
saling bercerita dari hati kehati, menceritakan hal yang paling menonjol yang
dimiliki saudaranya. Lalu setelah hal yang menonjol itu diceritakan, tersipu
dan memerahlah wajah si fulan. Lalu selanjutnya kita dengarkan kata – kata
bijak dari orang bijak ini memaknai ukhuwah, atau kebersamaan. Bersama orang –
orang beriman.
“Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman, “Mereka yang saling
mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar – mimbar dari cahaya yang
diinginkan oleh Para Nabi dan para Syuhada” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn
Jabal)
Ingin rasanya
aku kembali ke masa itu, kembali membersamai saudara – saudara tercinta,
kembali merasakan nikmatnya kebersamaan dalam perjuangan, rindu kembali
membersamai sosok yang telah mengajarkan kepadaku tentang arti sebuah
kesabaran, keikhlasan, kesungguhan, komitmen, konsistensi, kesemangatan dalam
berjuang menyeru kepada kebaikan. Dan memang kebersamaan tersebut telah
menjadikan satu kenangan terindah yang tidak akan pernah kulupakan.
Aku hanya bisa
berdo’a kepada Allah, semoga keistiqomahan dalam perjuangan ini selalu
mengiringi langkah – langkah mereka saat ini dan seterusnya, selamanya. Kalau
dulu mereka adalah para pejuang – pejuang tangguh yang rela mewakafkan diri
sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah, semoga saat inipun mereka tetap
tangguh, dan lebih tangguh dalam berjuang. Dan kitapun nanti semoga, berjumpa
kembali dan melepas kerinduan yang mendalam itu di surganya Allah Arrahman.
Tentu saat
ini walaupun fisik ini berjauhan, tetapi ikatan yang bernama ukhuwah ini akan
tetap terpatri dalam hati yang terdalam, akan tetap terukir indah dalam pahatan
peradaban. Dan sebentar lagi, hasil yang telah disemai dahulu, walaupun kecil,
akan segera kita nikmati hasilnya, dengan kekuatan kebersamaan, walaupun jauh,
tetapi aura kemenangan akan senantiasa terpancar seiring gerak langkah kaki
kita. Islam akan tegak dengan setegak – tegaknya, dan ternyata saudaraku, itu
adalah salah satunya perjuangan engkau, walaupun kecil, hanya membina, tetapi
itu berarti engkau telah mempersiapkan generasi terbaik untuk kejayaan Islam.
Cerita
tentang kebersamaan masih belum usai. Cerita tentang hangatnya ukhuwah masih
akan terus berlanjut. Cerita tentang membersamai dalam perjuangan, merenda dan
memintal benang – benang peradaban bersama orang – orang yang ikhlas membawa
misi ini, masih akan terus berlanjut sampai kapanpun. Karena setelah kita memaknai
bahwa bersama itu adalah bersaudara, kebersamaan yang penuh dengan energi
persaudaraan dan getaran cinta akan memuliakan dirinya, selanjutnya bersama
artinya berjuang bersama – sama dalam ikatan akidah yang selanjutnya
mengikrarkan sebuah perjuangan mulia menegakkan akidah itu. Akupun jadi
berfikir, kalau orang – orang yang mempunyai akidah muslim ini bisa bersatu,
maka tidak akan ada lagi ketakutan – ketakutan melawan cengkeraman pengaruh
Yahudi laknatullah alaihi.
Dan inilah
yang kemudian ditakutkan oleh Yahudi, yaitu orang – orang muslim itu menghimpun
kekuatan dalam nanungan cinta dan ukhuwah. Dan ternyata itu sangat sulit
setidaknya sulit buatku, karena untuk mencapai tahap itu kitapun sepertinya
harus melewati fase awal dari perjuangan, yakni melawan nafsu diri agar mampu
bersabar dalam kebersamaan. Dan untuk selanjutnya, biarkan ukhuwah yang akan
menuntun kita, aku, engkau dan semua yang menhadirkan cinta dalam hati terhadap
saudara seiman ketangga kemuliaan yang tertinggi, yang akan memuliakan kita dan
membuat hidup kita lebih ceria. Karena kebersamaan dalam persaudaraan itu
sebening prasangka, sepeka nurani, sehangat semangat, senikmat berbagi, sekokoh
janji.
Diakhir
tulisan ini, sebagai pengiring dalam kebersamaan yang indah, mari kita bersenandung
dengan merdunya suara dari brother, untukmu teman. Semoga kebersamaan ini akan
tetap abadi, dan akan menjadi cerita indah suatu ketika, antara aku, dan
engkau, wahai saudaraku di kampus konservasi Unnes.
Disini kita pernah bertemu
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Special For Firdaus)
Mencari warna seindah pelangi
Ketika kau menjulurkan tanganmu
Membawaku ke daerah yang baru
Dan hidupku kini ceria
(Special For Firdaus)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar