Valentine day merupakan istilah yang sangat akrab dan suatu momentum yang sangat dinanti-nantikan oleh para remaja dan pemuda-pemudi untuk mengekspresikan hasrat kasih sayang mereka. Hari yang diabadikan setiap empat belas Februari ini, senantiasa disambut dan dirayakan oleh kawula muda sebagai bagian dari bentuk manifestasi rasa cinta dan kasih sayang.
Boleh jadi tanggal 14 Februari setiap tahunnya merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh banyak remaja, baik di negeri ini maupun di berbagai belahan bumi lainnya. Sebab hari itu banyak dipercaya orang sebagai hari untuk mengungkapkan rasa kasih sayang mereka. Itulah hari Valentine, sebuah hari di mana orang-orang di barat sana menjadikannya sebagai fokus untuk mengungkapkan rasa ‘kasih sayang’, walau pun pada hakikatnya bukan kasih sayang melainkan hari ‘making love’. Dan seiring dengan masuknya beragam gaya hidup barat ke dunia Islam, perayaan hari valentine pun ikut mendapatkan sambutan hangat, terutama dari kalangan remaja ABG. Bertukar bingkisan valentine, semarak warna pink, ucapan rasa kasih sayang, ungkapan cinta dengan berbagai ekspresinya, menyemarakkan suasana Valentine setiap tahunnya, bahkan di kalangan remaja muslim sekali pun.
Padahal sahabat-sahabatku yang baik hati, kalau dilacak atau ditelusuri akar historis valentine day ini, maka akan tanpak secara jelas, betapa gelar dan hari yang diabadikan sebagai simbol keagungan dan kesucian cinta ini, sangat paradoks dalam pemaknaan cinta yang sesungguhnya.
Sejarah Valentine Day
Nah sahabat sekalian supaya tidak buta-buta tentang valentine, ini dia sejarahnya.
Uskup Valentin adalah seorang yang dianggap Santo (orang yang dianggap suci untuk agama Katolik) yang menggantikan seorang dewa yang bernama Lupercus sebagai dewa kesuburan, padang rumput dan hewan ternak serta penyayang. Penyembahan dewa Lupercus sudah menjadi bagian tradisi upacara keagamaan Romawi pada masa itu. Yang paling aneh dari tradisi upacara keagamaan itu diselingi penarikan undian dalam rangka mencari pasangan yang namanya sudah tertulis dalam sebuah kotak undian.
Setelah penarikan undian, maka mereka bebas untuk melakukan hubungan seksual dalam waktu yang sudah ditentukan. Setelah mereka bosan dan sudah terpenuhi kebutuhan nafsu syahwatnya. Mereka pun kembali menarik undian untuk mencari pasangan yang baru lagi, yang kemudian diperlakukan dengan perbuatan yang sama bejatnya. Begitulah tradisi keagamaan ini berlangsung selama berabad-abad.
Setelah Dewa Lupercus meninggal, maka Santo Valentin lah yang menggantikannya sebagai dewa kasih sayang. Tetapi, suatu ketika kekaisaran Romawi memerlukan sejumlah besar tentara yang dipersiapkan untuk berperang. Oleh karena itu, Kaisan memerintahkan untuk tidak melakukan perkawinan, karena menurut Kaisar dengan melakukan perkawinan para tentara perang dikhawatirkan akan mudah lemah dan tidak bersemangat. Namun, apa yang terjadi! Ternyata Santo Valentin merestui perkawinan terselubung seorang muda-mudi yang telah saling mengikat hubungan cinta. Akan tetapi, restu Santo Valentin dari praktek perkawinan terselubung ini, ternyata diketahui oleh Kaisar.
Akibat dari tindakan Santo ini, akhirnya Kaisar menghukum mati Santo Valentin dengan memancung atau memenggal kepalanya di Roma pada tahun 270 M dan mayatnya dikuburkan di tepi jalan Flamenia. Baru pada masa Kaisar Constantin (280-337) upacara tersebut kembali didesain dan dimodifikasi dengan penambahan pesan-pesan cinta yang disampaikan oleh para gadis, diletakkan dalam jambangan kemudian diambil para pemudanya.
Kemudian mereka berpasangan dan berdansa yang diakhiri dengan tidur bersama alias zina. Oleh Paus Galasium I seorang pimpinan dewan gereja, pada tahun 494 M mengubah upacara tersebut dengan bentuk rutinitas seremoni porofikasi (pembersihan dosa) dan juga mengubah upacara Lupercalia yang biasanya tanggal 15 Februari menjadi 14 Februari yang secara resmi ditetapkan pada tahun 496 M sebagai Valentin day.
The Encyclopedia Britania, vol. 12, sub judul: Chistianity, menuliskan penjelasan sebagai berikut: “Agar lebih mendekatkan lagi kepada ajaran Kristen, pada 496 M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari (The World Encylopedia 1998).
Keterangan seperti ini bukan keterangan yang mengada-ada loh, sebab rujukannya bersumber dari kalangan barat sendiri. Dan keterangan ini menjelaskan kepada kita, bahwa perayaan hari valentine itu berasal dari ritual agama Nasrani secara resmi dan sumber utamanya berasal dari ritual Romawi kuno.
Sementara di dalam tatanan aqidah Islam, seorang muslim diharamkan ikut merayakan hari besar pemeluk agama lain, baik agama Nasrani ataupun agama paganis (penyembah berhala) dari Romawi kuno.
Katakanlah, “Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang Aku sembah. Dan Aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang Aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku.”
(QS. Al-Kafirun: 1-6)
Nah, jelaskan? Kalau dibanding dengan perayaan natal, sebenarnya nyaris tidak ada bedanya. Natal dan Valentine sama-sama sebuah ritual agama milik umat Kristiani. Sehingga seharusnya pihak MUI pun mengharamkan perayaan Valentine ini sebagaimana haramnya pelaksanaan Natal bersama. (^_^)
Valentine Berasal Dari Budaya Syirik
Syirik? Nah loh, kenapa? Tahu tidak sahabat-sahabatku, Ken Swiger dalam artikelnya “Should Biblical Christians Observe It?” mengatakan, “Kata “Valentine” berasal dari bahasa Latin yang berarti, “Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Maha Kuasa”. Kata ini ditunjukan kepada Nimroe dan Lupercus, tuhan orang Romawi”.
Disadari atau tidak ketika kita meminta orang menjadi “to be my Valentine”, berarti sama dengan kita meminta orang menjadi “Sang Maha Kuasa”. Jelas perbuatan ini merupakan kesyirikan yang besar, menyamakan makhluk dengan Sang Khalik, menghidupkan budaya pemujaan kepada berhala. Icon si “Cupid (bayi bersayap dengan panah)” itu adalah putra Nimrod “the hunter” dewa matahari.
Disebut tuhan cinta, karena ia rupawan sehingga diburu wanita bahkan ia pun berzina dengan ibunya sendiri. Islam mengharamkan segala hal yang berbau syirik, seperti kepercayaan adanya dewa dan dewi. Dewa cinta yang sering disebut-sebut sebagai dewa Amor, adalah cerminan aqidah syirik yang di dalam Islam harus ditinggalkan jauh-jauh. Padahal atribut dan aksesoris hari valentine sulit dilepaskan dari urusan dewa cinta ini.
Walhasil, semangat Valentine ini tidak lain adalah semangat yang bertabur dengan simbol-simbol syirik yang hanya akan membawa pelakunya masuk neraka, naudzu billahi min zalik.
Valentine Dalam Pandangan Islam
Setidaknya ada dua dasar pikiran atau pijakan kita dalam melihat dan menentukan, apakah Valentine day dapat diterima dalam ajaran dan tradisi Islam. Dasar pikiran yang pertama, dengan melihat dari segi akar sejarahnya. Dari uraian diatas, jelas bahwa Valentine day bukanlah warisan ajaran peninggalan sejarah para Nabi dan Rasul, melainkan ajaran sejarah Dewa Luparcelia, yang kemudian diteruskan oleh Uskup Santo Valentine salah seorang rahib dalam tradisi agama Katolik pada saat itu. Sementara dalam perspektif ajaran Islam atau agama-agama hanif (mulai dari Adam sampai dengan Muhammad SAW), bahwa sesuatu pesan baru dianggap sebagai bagian dari ajaran agama ketika pesan ajaran itu disampaikan oleh para Rasul yang kemudian diabadikan oleh wahyu Tuhan. Di luar dari ketentuan diatas, maka sesuatu perbuatan (apalagi menjadi sebuah momen perayaan) tersebut dianggap menyesatkan dan bisa jatuh kepada hukum syrik. Dalam hadis Rasul ditegaskan, "Siapa yang menyerupai sesuatu perbuatan kaum, maka ia bagian dari kaum itu". (HR. Bukhori Muslim) hadis ini merupakan, salah satu pernyataan Rasulullah SAW, yang sangat populer dan sering kita dengarkan yang menuntut kehati-hatian kita dalam melaksanakan suatu sistem ajaran, karena kita akan menjadi bagian dari golongan tersebut.
Firman Allah: "Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentangnya. Sesungguhnya, pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya akan dimintai pertanggungjawabannya". (QS. Al Isra': 36). Yang kedua, sistem tata nilai yang terkandung dalam Valentine day jelas sangat bertentangan dengan sistem tata nilai dalam ajaran Islam. Dalam Islam, tidak ditemukan atau diperbolehkan bahkan sangat dilarang keras untuk membangun sebuah pola pergaulan antara pria dan wanita secara bebas.
Perayaan Valentine’s Day di masa sekarang ini mengalami pergeseran sikap dan semangat. Kalau di masa Romawi, sangat terkait erat dengan dunia para dewa dan mitologi sesat, kemudian di masa Kristen dijadikan bagian dari simbol perayaan hari agama, maka di masa sekarang ini identik dengan pergaulan bebas muda-mudi. Mulai dari yang paling sederhana seperti pesta, kencan, bertukar hadiah hingga penghalalan praktek zina secara legal. Semua dengan mengatasnamakan semangat cinta kasih.
Dalam semangat hari Valentine itu, ada semacam kepercayaan bahwa melakukan maksiat dan larangan larangan agama seperti berpacaran, bergandeng tangan, berpelukan, berciuman, petting bahkan hubungan seksual di luar nikah di kalangan sesama remaja itu menjadi boleh. Alasannya, semua itu adalah ungkapan rasa kasih sayang, bukan nafsu libido biasa. Bahkan tidak sedikit para orang tua yang merelakan dan memaklumi putera-puteri mereka saling melampiaskan nafsu biologis dengan teman lawan jenis mereka, hanya semata-mata karena beranggapan bahwa hari Valentine itu adalah hari khusus untuk mengungkapkan kasih sayang.
Padahal kasih sayang yang dimaksud adalah zina yang diharamkan. Orang barat memang tidak bisa membedakan antara cinta dan zina. Ungkapan make love yang artinya bercinta, seharusnya sedekar cinta yang terkait dengan perasan dan hati, tetapi setiap kita tahu bahwa makna make love atau bercinta adalah melakukan hubungan kelamin alias zina. Istilah dalam bahasa Indonesia pun mengalami distorsi parah.
Misalnya, istilah penjaja cinta. Bukankah penjaja cinta tidak lain adalah kata lain dari pelacur atau menjaja kenikmatan seks?
Di dalam syair lagu romantis barat yang juga melanda begitu banyak lagu pop di negeri ini, ungkapan make love ini bertaburan di sana sini. Buat orang barat, berzina memang salah satu bentuk pengungkapan rasa kasih sayang. Bahkan berzina di sana merupakan hak asasi yang dilindungi undang-undang.
Bahkan para orang tua pun tidak punya hak untuk menghalangi anak-anak mereka dari berzina dengan teman-temannya. Di barat, zina dilakukan oleh siapa saja, tidak selalu Allah subhanahu wa ta’ala berfirman tentang zina, bahwa perbuatan itu bukan hanya dilarang sahabatku, bahkan sekedar mendekatinya pun kita diharamkan untuk itu.
Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
(QS Al Isra’: 32)
Dalam Islam tidak ada Valentine, sebab kata Valentine itu merupakan istilah impor dari agama di luar Islam. Bahkan latar belakang sejarah dan esensinya pun tidak sejalan dengan Islam. Kalau yang kamu inginkan adalah perwujudan rasa kasih sayang menurut syariah Islam, tentu saja Islam merupakan ‘gudang’ nya kasih sayang. Tidak sebatas pada orang-orang terkasih saja, bahkan kasih sayang kepada semua orang. Bahkan hewan pun termasuk yang mendapatkan kasih sayang. So, just we didn’t celebrate valentine day dan mari dukung 14 Februari sebagai hari HIJAB sedunia. (um/dari berbagai sumber)
Merajut Ukhuwah di Jalan Cahaya
LDF Surau Firdaus Fakultas Pertanian UNHAS (Santun dalam Berdakwah Profesional Dalam Berkarya)
Jumat, 30 Januari 2015
Sabtu, 24 Mei 2014
Ramadhan Kian Dekat
Semoga Allah
menyampaikan kita semua di bulan Ramadhan yang sebentar lagi akan datang. Tamu
agung itu begitu mulia membawa berbagai kebaikan dan keberkahan, menjanjikan
ampunan dan rahmat bagi yang menyambutnya dan berinteraksi dengannya dengan
penuh keimanan dan harapan kepada Allah. Amal perbuatan dilipat-gandakan
pahalanya dan dosa-dosa diampuni. Doa dan munajat didengar dan dikabulkan
Allah. Bahkan, padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada seribu
bulan.
Terdapat dua sikap orang
dalam menyambut dan menghadapi bulan penuh keberkahan ini. Pertama, orang yang
bergembira dan penuh antusias serta suka cita dalam menyambut bulan Ramadhan.
Karena baginya, bulan Ramadhan adalah kesempatan yang Allah anugerahkan kepada
siapa yang dikehendaki untuk menambah bekal spiritual dan bertaubat dari semua
dosa dan kesalahan. Ramadhan baginya adalah bulan bonus dimana Allah
melipatgandakan pahala amal kebaikan. Maka segala sesuatunya dipersiapkan untuk
menyambut dan mengisinya. Baik mental, ilmu, fisik, dan spiritual. Bahagia,
karena di bulan terdapat janji dijauhkannya seseorang dari api neraka. Dan itu
merupakan kemenangan yang membahagiakan. Firman Allah,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada
hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka
dan dimasukkan ke dalam surga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia
itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” (Ali Imran: 185)
Sedangkan yang kedua
adalah menyambutnya dengan sikap yang dingin. Tidak ada suka-cita dan bahagia.
Baginya, Ramadhan tidak ada ubahnya dengan bulan-bulan lain. Orang seperti ini
tidak bisa memanfaatkan Ramadhan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
kepada Allah. Dosa dan kesalahan tidak membuatnya risau dan gelisah hingga tak
ada upaya maksimal untuk menghapusnya dan menjadikan Ramadhan sebagai momen
untuk kembali kepada Allah.
Bahkan, ia sambut bulan
Ramadhan dengan kebencian. Sebab bulan suci ini hanya akan menghambatnya
melakukan dosa dan kemaksiatan, sebagaimana yang dilakukannya di bulan-bulan
lain. Hatinya tertutup dan penuh benci kepada kebaikan. Menyaksikan kaum
Muslimin berlomba-lomba dalam kebaikan, mengisi hari-hari mereka dengan ibadah
adalah pemandangan yang tidak disukainya. Dan syetan telah menghembuskan
kebencian dalam hatinya hingga Ramadhan bagai neraka baginya. Semoga kita
dijauhkan dari sikap dan sifat ini.
Allah berfirman,
“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahanam)
kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak
dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata
(tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan
mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat
Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.
Mereka Itulah orang-orang yang lalai.” (Al-A’raf: 179)
Ia tidak menggunakan
akal dan hatinya untuk mencerna kebaikan yang berguna bagi kehidupannya.
Padahal pada tradisi setiap masyarakat hari-hari tertentu atau bulan-bulan
tertentu yang memiliki keistimewaan di banding hari dan bulan yang lain.
Sebagaimana pada masyarakat jahiliyah sebelum Islam terdapat Yaumul ‘Afwi (Hari Pengampunan) bagi para pembesar
Quraisy. Sebagaimana Nu’man bin Al-Mundzir, ia memiliki Hari Pengampunan. Pada
hari tersebut kaumnya datang kepadanya untuk mendapatkan ampunan darinya. Maka
ia mengampuni mereka yang salah, membebaskan tawanan, memberikan amnesti, dan
membebaskan kaumnya dari membayar pajak.
Rasulullah menyambut
bulan Ramadhan penuh perasaan bahagian dan suka-cita. Beliau ingatkan para
sahabat agar menyiapkan diri mereka untuk menyambut dan mengisinya dengan amal.
Diriwayatkan oleh Salman Al-Farisi bahwa Rasulullah berceramah di harapan para sahabat
di akhir Sya’ban, beliau bersabda,
“Wahai sekalian manusia. Kalian akan dinaungi oleh bulan yang
agung nan penuh berkah. Padanya terdapat satu malam yang lebih baik daripada
seribu malam. Allah menjadikan puasa di bulan itu sebagai kewajiban dan qiyamnya
sebagai perbuatan sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada-Nya dengan amal
kebaikan seolah-olah ia telah melakukan kewajiban di bulan lain. Dan
barangsiapa melakukan kewajiban pada bulan itu maka ia seolah telah melakukan
tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ia adalah bulan kesabaran dan kesabaran
itu adalah jalan menuju surga. Ia adalah bulan keteladanan dan bulan dimana
rezki dimudahkan bagi orang mukmin. Siapa memberi buka kepada orang yang
berpuasa maka ia mendapatkan ampunan atas dosa-dosanya dan lehernya
diselamatkan dari api neraka. Ia juga mendapatkan pahalanya tanpa mengurangi
pahala orang itu sedikit pun.” Sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, tidak semua
kita bisa memberi buka bagi orang puasa.” Rasulullah menjawab, “Allah memberi
pahala yang sama kepada orang yang memberi buka walau sekadar kurma dan seteguk
air atau seteguk air susu. Ia adalah bulan dimana permulaannya rahmat,
pertengahannya ampunan, dan ujungnya diselamatkannya seseorang dari neraka.
Barangsiapa meringankan budaknya Allah mengampuninya dan membebaskannya dari
neraka. Perbanyaklah kalian melakukan empat hal: dua hal pertama Allah ridha
kepada kalian, yaitu mengucapkan syahadat tiada ilah selain Allah dan meminta
ampunan kepada-Nya. Sedangkan hal berikutnya adalah yang kalian pasti
membutuhkannya; yaitu agar kalian meminta surga kepada Allah dan berlindung
kepada-Nya dari neraka. Barangsiapa memberi minum orang berpuasa maka Allah
akan memberinya minum dari telagaku yang tidak akan pernah haus sampai dia
masuk ke dalam surga.” (Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)
Para sahabat dan
salafus-shalih pun senantiasa menyambut bulan Ramadhan dengan bahagia dan
persiapan mental dan spiritual. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatthab
menyambutnya dengan menyalakan lampu-lampu penerang di masjid-masjid untuk
ibadah dan membaca Al-Qur’an. Dan konon, Umar adalah orang pertama yang memberi
penerangan di masjid-masjid. Sampai pada zaman Ali bin Abi Thalib. Di malam
pertama bulan Ramadhan ia datang ke masjid dan mendapati masjid yang terang itu
ia berkata, “Semoga Allah menerangi kuburmu wahai Ibnul Khatthab sebagaimana
engkau terangi masjid-masjid Allah dengan Al-Qur’an.”
Diriwayatkan Anas bin
Malik bahwa para sahabat Nabi saw jika melihat bulan sabit Sya’ban mereka serta
merta meraih mushaf mereka dan membacanya. Kaum Muslimin mengeluarkan zakat
harta mereka agar yang lemah menjadi kuat dan orang miskin mampu berpuasa di
bulan Ramadhan. Para gubernur memanggil tawanan, barangsiapa yang meski dihukum
segera mereka dihukum atau dibebaskan. Para pedagang pun bergerak untuk
melunasi apa yang menjadi tanggungannya dan meminta apa yang menjadi hak
mereka. Sampai ketika mereka melihat bulan sabit Ramadhan segera mereka mandi
dan I’tikaf.”
Banyak membaca Al-Qur’an
adalah salah satu kegiatan para salafus-shalih dalam menyiapkan diri mereka
menyambut Ramadhan. Karena Ramadhan adalah bulan dimana Al-Qur’an diturunkan.
Bersedekah dan menunaikan semua kewajiban. Juga menunaikan semua tugas dan
kewajiban sebelum datang Ramadhan. Sehingga bisa konsentrasi penuh dalam mengisi
hari-hari Ramadhan tanpa terganggu oleh hal-hal lain di luar aktivitas ibadah
di bulan suci ini.
Bukan dengan kegiatan
fisik dan materi yang mereka siapkan, namun hati, jiwa, dan pikiran yang mereka
hadapkan kepada Allah. Bukan sibuk dengan pakaian baru dan beragama makanan
untuk persiapan lebaran yang mereka siapkan, namun semua makanan rohani dan
pakaian takwa hingga mendapatkan janji Ramadhan.
Ibnu Mas’ud Al-Ghifari menceritakan,
“سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ -وَأَهَلّ رَمَضَانَ- فَقَالَ:
“لَوْ يَعْلَمُ الْعِبَادُ مَا فِي رَمَضَانَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي أَنْ تَكُوْنَ
السَّنَةُ كُلُّهَا رَمَضَانَ”
“Aku mendengar Rasulullah saw –suatu hari menjelang Ramadhan –
bersabda, “Andai para hamba mengetahui apa itu Ramadhan tentu umatku akan
berharap agar sepanjang tahun itu Ramadhan.”
Mari kitaberbenah diri
untuk menyambut jenak-jenak Ramadhan yang kian saat kian mendekat. Semoga kita
disampaikan di bulan suci tersebut. Dan kita tidak tahu apakah Ramadhan kali
ini kita mendapatinya. Juga kita tidak tahu apakah ketika mendapatinya ia
menjadi Ramadhan yang terakhir bagi kita. Seperti tahun-tahun yang telah
berlalul. Wallahu a’lam.
Kamis, 01 Mei 2014
Langganan:
Postingan (Atom)

