Talk Less Do More
Oleh : Supriadi
Dosen saya pernah berkata bahwa salah satu hal yang menghambat pembangunan pertanian di Indonesia karena kurangnya tenaga pengabdi dalam masyarakat. Masalah itu muncul dari bagian prakitisi atau pelaksana kebijakan dari perumusan konsep yang ada mendapatkan eksekusi yang kurang baik. Di satu sisi kampus ternyata banyak mencetak para konseptor yang banyak berkutat pada perumusan konsep ideal dan hanya diaplikasikan pada sebatas uji kelayakan laboratorium dan bukan pelaksana tugas di lapangan sekaligus pengemban tugas utama pada kehidupan nyata.
Hampir semua manusia sudah sepakat bahwa keteladanan dalam hal pembelajaran amat penting dilakukan karena tanpa keteladanan maka seseorang akan berat untuk mengikut apa yang kita inginkan. Seperti halnya ketika kita menyuruh orang untuk bersedekah maka terlebih dahulu kita harus mencontohkan untuk bersedekah. Mungkin kondisi inilah yang sedang berada pada titik kritis di negeri kita ini dimana kita lebih mengagungkan seorang konseptor dan lupa untuk mengapresiasi seorang pekerja nyata, seperti halnya mengandalkan konsep tanpa kerja. Namun mungkinkah ada hasil tanpa ada yang mengerjakan?, bukankah keberhasilan bukan terletak pada keberhasilan menyusun konsep namun sejauh mana apa yang terlebih dahulu kita konsepkan itu tercapai sesuai targetan yang kita berikan.
Bagaimana pun dan sampai kapan pun, kerja akan lebih utama daripada sekedar propaganda kosong. Dan hanya orang bekerja secara real-lah yang akan memberikan pengaruh besar pada orang yang ada di sekitarnya bukan orang yang hebat dalam berbahasa dan menyusun konsep secara apik meskipun pada hakikatnya konsep yang baik sangat diperlukan namun tidak sampai mengungguli keutamaan kerja itu sendiri. Lihatlah betapa seorang penyair hanya bisa menjadi orang yang dikagumi dalam ucapan indah namun tak sampai pada tatanan perbuatan nyata, begitu pula dengan seorang filsuf yang kata-kata dan fikirannya bisa diterima namun hanya cenderung pada kekaguman akan cara berfikir dan tak sampai terlaksana pada gerak yang nyata. Karena mereka mengajarkan ucapan dan cara berfikir, tak sampai pada tauladan pada tataran kerja.
Dunia telah banyak bercerita, bagaimana suatu perubahan diciptakan oleh orang-orang yang mengutamakan amal dari pada omongan belaka. Kita mengenal jamaah terbesar dunia, Ikhwanul Muslimin yang terkenal dengan gagasan dan idenya yang banyak berpengaruh di dunia. Kita mengenal jamaah ini lantaran memang orang yang menjadi penggeraknya sangat dianjurkan untuk bekerja dan berada pada semua lini kehidupan dan menjadi manusia pekerja dengan sistem yang diyakininya. Dan begitu pun kita banyak belajar pada kegagalan banyak organisasi yang tak berkembang bahkan jatuh dan mati karena langkahnya bukan gerak namun hanya cerita belaka yang kurang bertindak, organisasi seperti ini dapat dijumpai pada organisasi gagal. jika kita menelusurinya lebih jauh maka kita akan tahu bahwa penghambat utamanya adalah kurangnya kerja. Karena sesungguhnya orang yang mengandalkan kerja tak punya alasan untuk berhenti kecuali keputusasaan yang datang menghampirinya, sementara orang yang tidak jelas sistem dan tujuannya serta cara apa yang ditempuh tak akan dapat mengevaluasi kinerjannya tanpa terlebih dahulu berbuat. Orang bijak berkata tak ada penyesalan setelah bekerja yang ada adalah penyesalan yang muncul ketika belum sempat bekerja.
Dengan banyak bekerja maka kita akan mengetahui apa yang kita perjuangkan dan akan merasakan gerak sejauh mana kita melangkah dan orang-orang yang turut di dalamnyalah yang akan menjadi pendengar cita-citanya dan turut dengan langkah-langkah sistem yang kita jalani. Konsekuensi dari keadaan ini adalah kesamaan kata dan perbuatan sementara konsekuensi dari kesamaan kata dan perbuatan adalah adanya kata yang realistis untuk diamalkan, dengan demikian tak ada lagi kata yang menyumbat lidah kita untuk berkata, untuk menasehati, untuk menyeru karena ternyata kita pernah berada pada kondisi itu dan jika hal ini sudah kita jalankan maka orang-orang yang ada di sekitar kita akan tersibgah dengan kehadiran kita, sadar atau tidak orang lain akan ikut akan apa yang kita inginkan.
Dan mengapa pula lembaga mahasiswa banyak dijauhi? Mengapa aksi-aksi kita tak terdengarkan, saya kira alasan ini cukup masuk akal. Karena kita Cuma propagandis ulung, bukan pekerja ulung yang bisa diteladani.
Ketika orang lain mengandalkan “satu kata” sebagai solusi, maka tak ada salahnya jika kita mengatakan bahwa solusinya adalah bekerjalah. Bukan yang lain, bukan berteriaklah dan bukan merataplah.
Talk less do More. Demi Pena dan apa yang dituliskannya.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Pertanian
Jurusan Ilmu Tanah Angkatan 2008
Tidak ada komentar:
Posting Komentar