Rabu, 10 November 2010

REFERENSI YANG MUNGKIN BERGUNA



I. PENDAHULUAN
Lahan sawah Adalah sebidang lahan yang tergenang oleh air yang digunakan untuk membudi dayakan padi, dan beberapa tanaman yang memerlukan pengairan dalam pertumbuhannya (Tanaman semi aquatic). Meskipun pada umumnya tanaman padi bisa tumbuh pada lahan kering tetapi pada akhir abad ke 20 lahan sawah merupakan lahan yang paling dominan digunakan untuk membudi dayakan padi. Lahan sawah adalah jenis lahan yang diutamakan untuk membudidayakan padi pada Negara berkembang di wilayah timur, selatan, dan bagian asia tenggara termasuk diantaranya Kamboja, Bangladesh, china, Taiwan, India, Indonesia Jepan, Korea Utara, mallaysia, Mianmar, Nepa,.Pakistan, Filipina, Sri Lanka, Thailand, Vietnam dan laos. Dan juga ditemukan pada wilayah pembudidaya padi seperti itali, Francis, Haiti, kalifornia dan amerika serikat pada sebagian kecil wilayahnya.
Lahan sawah bisa dikembangkan untuk lahan alami (tanpa Irigasi) seperti sungai. Lahan sawah dapat dikonstruksi, sering kali pada daerha yang curam, dengan seperangkat tenaga kerja dan membutuhkan beberapa material. Lahan yang dibutuhkan dalam jumlah yang besar membutuhkan teknik irigasi yang memadai Menciptakan suasana yang jenuh air adalah sesuatu yang sangat penting untuk membudi dayakan pertanian pada lahan. Dengan kondisi yang jenuh air maka tanaman yang dibudi dayakan akan tumbuh dengan baik. Namun pada sisi lain akan menyebabkan efek negative pada lingkungan salah satu kasusnya yaitu sebagai salah satu penyumbang emisi gas metana terbesar.
Pada sisi lain masalah-masalah yang akan timbul pada lahan sawah adalah rendahnya laju infiltrasi dengan drainase yang buruk sangat berkaitan erat dengan efisiensi penggunaan air yang menyebabkan tanaman menjadi boros air sekaligus menyebabkan hilangnya hara melalui penguapan.
Indonesia sebagai salah satu Negara yang sangat mengandalkan lahan sawah sebagai sumber utama dalam pemenuhan kebutuhan pangan. Dalam hal ini untuk memenuhi kebutuhan bahan pokok (beras). Sehingga sangat penting dilaksanakan suatu pengkajian terhadap cara pengolahan lahan sawah yang sesuai dapat meningktakn nilai produktivitas lahan sawah yang ada. Baik itu dalam hal pengolaan managemen kesuburan tanah yang ada maupun dengan teknik pengolahan air
II. ISI
2.1 Definisi Lahan Sawah
Yang dimaksud dengan lahan sawah adalah lahan pertanian yang berpetak-petak dan dibatasi oleh pematang (galengan), saluran untuk menahan/menyalurkan air, yang biasanya ditanami padi sawah tanpa memandang dari mana diperolehnya atau status tanah tersebut. Termasuk di sini lahan yang terdaftar di Pajak Hasil Bumi, Iuran Pembangunan Daerah, lahan bengkok, lahan serobotan, lahan rawa yang ditanami padi dan lahan-lahan bukaan baru (transmigrasi dan sebagainya).
Berdasarkan pengairannya lahan sawah dibedakan menjadi :
1.Lahan Sawah Berpengairan (Irigasi).
Yaitu lahan sawah yang memperoleh pengairan dari sistem irigasi, baik yang bangunan penyadap dan jaringan-jaringannya diatur dan dikuasai dinas pengairan PU maupun dikelola sendiri oleh masyarakat.Lahan sawah irigasi terdiri atas
• Lahan sawah irigasi teknis.
• Lahan sawah irigasi setengah teknis.
• Lahan sawah irigasi sederhana.
• Lahan sawah irigasi non PU
2. Lahan Sawah Tak Berpengairan (Non Irigasi)
Yaitu lahan sawah yang tidak memperoleh pengairan dari sistem irigasi tetapi tergantung pada air alam seperti : air hujan, pasang surutnya air sungai/laut, dan air rembesan.
Lahan sawah non irigasi meliputi :
• Lahan sawah tadah hujan.
• Lahan sawah pasang surut.
• Lahan sawah lainnya (lebak, polder, rembesan, lahan rawa yang dapat ditanami padi dan lain-lain).


2.2 Analisis Potensi dan Masalah Pada Lahan Sawah
2.2.1 Potensi
Pada umunya lahan sawah mempunya beberapa potensi yang dapat dioptomalkan dan menjadi bagian pendukung dalam memanfaatkannya yaitu :

Lahan sawah lebih mampu mempertahankan tingkat produktivitas lebih dibandingkan dengan lahan kering. Penggenangan dapat meningkatkan ketersediaan hara P dan K dan meningkatkan pH tanah menjadi Netral.
 Membentuk lapisan kedap dan mengurangi kehilangan hara akibat pencucian.
 Mengurangi erosi pada lahan.

2.2.1 Masalah
 Masalah lahan sawah yang terjadi pada jenis tanah tertentu yaitu Faktor drainase sebagai factor yang menonjol dimana mengakibatkan.
 Pada sawah yang baru terbentuk dapat menyebabkan kelebihan Fe yang daoat berakibat pada keracunan tanaman terutama tanaman padi.
 Kondisi reduksi pada lahan sawah bukaan yang baru menyebabkan beberapa unsure seperti S, Zn, dan Cu tidak tersedia.
 Drainase buruk pada lahan sawah gambut.
 Penggenangan yang terus menerus tanpa drainase menyeabkan terbentuknya racun seperti sulfide dan asam-asam organic serta emisi gas metana pada tanaman padi.




3. Teknik Pengolahan.
3.1 Lahan Sawah Terpadu Ramah Lingkungan
Pengolahan lahan yang diperuntukan bagi tanaman padi sangatlah penting untuk perhatikan. Karena lahan sawah (tanah sawah) merupakan tempat mengambil cadangan hara yang dibutuhkan bagi tanaman padi. Tanah ibarat dapur yang mengolah dan menyediakan nutrisi makanan bagi tanaman. Oleh karena itu pertumbuhan tanaman padi diantarannya akan dipengaruhi sejauhmana proses pengolahan yang dilaksanakan sebelum ditanami.
Sistem pengolahan lahan dapat dilaksanakan secara tradisional dengan menggunakan bajak, singkal, dan cangkul. Maupun dengan cara modern dengan menggunakan alat mekanisasi seperti hand traktor.
1. Proses pengolahan lahan sawah yang baik seyogiannya diawali dengan cara melakukan pemisahan jerami, sisa – sisa panen yang tidak terangkat, rumput dan tanaman gulma lainnya. Agar supaya jerami dan sisa – sisa tanaman lainya tidak dibakar. Maka untuk memudahkan proses pengolahan lahan, sebaiknya jerami dipisahkan dan dikumpulkan disekitar pematang (pinggiran petakan).
2. Apabila tanah setelah mengalami musim kemarau, sebelum diolah tanah sebaiknya digenangi air terlebih dulu beberapa hari agar pori-pori tanah membuka dan tekstur tanah menjadi lembek.
3. Setelah tanah menjadi lembek, artinya tanah siap untuk diolah.
4. Pengolahan pertama dilakukan dengan cara dibajak, bisa menggunakan bajak/singkal dengan bantuan sapi atau kerbau. atau bisa juga menggunakan bajak traktor tangan. Proses pembajakan ini dilakukan dengan cara membalikan lapisan olah tanah agar sisa – sisa tanaman seperti rumput, dan jerami dapat terbenam. Setelah tanah dibajak, maka dibiarkan beberapa hari, agar terjadi proses fermentasi untuk membusukan sisa tanaman dan jerami di dalam tanah.
5. Selama proses tersebut sebaiknya ditambahkan bahan organik lainnya seperti pupuk kandang dan pupuk hijau. Agar kandungan hara dalam tanah dapat meningkat. Penggunaan bahan organik bertujuan untuk memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah. Gunakan bahan organik atau pupuk kandang sebanyak 2-3 ton/ha, seperti kompos, jerami, pupuk kandang/kotoran sapi atau ayam, pupuk hijau dan pupuk organik lainnya. Pupuk kandang dan sumber organik lainnya digunakan pada saat pengolahan lahan untuk meningkatkan kesuburan tanah dan kadar bahan organik tanah. Dan menyediakan mikro hara dan faktor-faktor pertumbuhan lainnya yang biasanya tidak disediakan oleh pupuk kimia (anorganik). Penggunaan bahan-bahan ini juga dapat meningkatkan pertumbuhan mikroba dan perputaran hara dalam tanah.
6. Setelah proses pembalikan lapisan olah dan pemeraman bahan organik dalam tanah. Kemudian dilakukan proses pengolahan kedua yaitu proses penggemburan atau proses pencampuran antara bahan organik dengan tanah. Proses ini dimaksudkan agar bahan organik dapat menyatu dengan lapisan olah tanah. Diusahakan selama pengolahan ini pasokan air agar mencukupi. Jangan terlalu kering dan jangan terlalu basah. Proses pencampuran ini dilakukan sampai bahan organik benar-benar menyatu dan melumpur dengan lapisan olah tanah.
7. Proses selanjutnya permukaan tanah diratakan dengan bantuan alat berupa papan kayu yang ditarik sapi atau kerbau, atau dengan menggunakan traktor tangan. Proses ini dimaksudkan agar lapisan olah tanah benar-benar siap untuk di tanami tanaman padi pada saat tandur dilaksanakan.
8. Waktu yang dibutuhkan selama proses pengolahan tanah ini berkisar antara 16 – 18 hari.
Dianjurkan agar penggunaan traktor tangan dikurangi, karena pengaruh yang ditimbulkan jika setiap kali mengolah tanah menggunakan traktor adalah tekstur tanah menjadi lebih padat. Hal ini akan mempengaruhi proses penyerapan hara dan pertumbuhan perakaran pada tanaman padi.
3. 2 Pengolahan Lahan Sawah Teknik Sri (System Of Rice Intensification).
Pengolahan lahan teknik SRI atau merupakan teknik pengolahan lahan yang dilakukan pada tanah sawah untuk membudidayakan tanaman padi, teknik pengolahan sawah ini tidak membutuhkan banyak air, air hanya dibutuhkan pada saat awal pengolahan tanah dan pada saat lahan sawah mulai mengering atau dalam keadaan kondisi tanah retak - retak. Pengolahan lahan teknik SRI ini merupakan pengolahan lahan sudah cukup banyak dikenal dan juga telah banyak diaplikasikan pada lahan sawah para petani di Indonesia.
Pengolahan tanah pada teknik SRI ini sama seperti pengolahan tanah konvensional pada umumnya, namun pada teknik pengolahan ini sangat dianjurkan pemberian pupuk kandang / kompos pada saat masa pembajakan tanah. Dan pada sekeliling petakan sawah dibuat parit kira-kira sedalam 30 – 50 cm untuk membantu pada saat periode pengeringan.
Pembibitan SRI dilakukan pada bak plastik atau apa saja yang dapat digunakan. Komposisi media tanamnya yakni 1:1:1 berimbang antara kompos, pasir dan tanah. Tanah berfungsi sebagai media tanam untuk menyimpan air, pasir sebagai pemberi rongga untuk pengoptimalan aerasi dan kompos untuk penyedia nutrisi yang dibutuhkan oleh pertumbuhan bibit. Pada pengolahan lahan secara konvensional pembibitannya biasanya dilakukan pada lahan sawah tersebut dengan membuat sebuah petakan di suatu sisi lahan tergantung teknik yang diinginkan.
Teknik pengolahan lahan ini menggunakan metode jarak tanam yang pada umumnya digunakan para petani adalah 20 cm X 20 cm, 25 cm X 25 cm dan 30 cm X 30 cm, pada metode ini digunakan garis atau caplak sebagai petunjuk batas jarak tanam agar pertanaman teratur dan pembentukan jarak tanam yang seragam metode ini dilakukan pada saat setelah pengolahan tanah selesai dilakukan dengan menggunakan alat tradisional. Lain dengan teknik pengolahan lahan sawah secara konvensional, jarak tanam pada teknik pengolahan lahan sawah secara konvensional menggunakan sistim jarak tanam kira kira, jadi tidak menggunakan caplak atau jarak ukuran tanam tertentu melainkan jarak tanamnya hanya dengan menggunakan perkiraan saja.
Penanaman bibit pada teknik SRI ini dapat dilakukan pada 5 – 15 hari setelah penyemaian dengan jumlah bibit 1 bibit perlubang. Pembenaman bibit dilakukan sedalam 1 cm – 1,5 cm dengan posisi akar membentuk huruf L. salah satu tujuan dilakukannya penanaman lebih dini bertujuan untuk mencegah serangan hama keong yang dapat merusak pertumbuhan tanaman padi. Hal ini berbeda dengan pengolahan lahan secara konvensional, penanaman bibit dilakukan pada umur 25 sampai 30 hari setelah masa tanam yang pada masa tersebut sebenarnya rentan oleh serangan hama.
Pemupukan dapat dilakukan 10 hari setelah masa tanam dengan teknik pemupukan dan dosis yang sesuai dengan anjuran setempat tergantung dengan kondisi kesuburan tanah pada lahan yang akan diolah. Biasanya pemberian pupuk dilakukan dengan mengutamakan penggunaan pupuk organic atau kompos 1 ton pupuk kompos dapat di aplikasikan pada lahan seluas 1 hektar dengan pemberian berkala yakni 70% pada saat pengolahan lahan dan 30% pada saat 10 hari setelah masa tanam.
Pengendalian gulma atau penyiangan sebaiknya dilakukan setiap 10 hari setelah masa tanam sesuai dengan kondisi lahan. Pengendalian dapat dilakukan dengan cara mekanik dan cara manual. Gulma yang tercabut dapat dibenamkan atau disisihkan. Pada hal ini waktu pengendalian gulma juga dapat dilakukan sesuai dengan keinginan sendiri. Jika dibandingakn dengan pengolahan lahan secara konvensional sebenarnya cara pengendaliannya sama namun hanya anjuran waktu pengendaliannya saja yang berbeda, pada teknik SRI pada umumnya dianjurkan setiap 10 hari setelah masa tanam dan pada teknik secara konvensional waktu pengendaliannya tergantung dengan kondisi lahan dan sesuai kemauan pengolah lahan tersebut.
Pengairan dapat dilakukan secara intermitten atau maksimal sekitar 2 cm. kemudian dibiarkan mengering sampai kondisi tanah mulai terbelah belah atau retak retak dan pada saat itu dapat dilakukan pengairan lagi serta begitu pula seterusnya. Teknik pengairan seperti ini bertujuan untuk mengoptimalkan proses respirasi perakaran. Kondisi ini tentu sangat membantu bagi pertumbuhan perakaran dan perkembangan perakaran. Lain dengan pengolahan lahan pada system konvensional pengairan dilakukan pada awal masa pengolahan lahan dan penghentian air dilakukan pada saat periode pemasakan bulir padi.
Pengendalian hama dan penyakit pada metode SRI ini dianjurkan dengan menggunakan metode PHT (pengendalian hama terpadu), atau dapat juga dilakukan dengan penggunaan pestisida nabati. Penggunaan pestisida nabati pada teknik ini biasanya dilakukan dengan menngabungkan bahan bahan organic seperti daun mimba ,serabut kelapa atau sebagainya tergantung dengan hama atau penyakit yang menyerang lahan tersebut.
Pemanenan dilakukan setelah tanaman menunjukkan tanda tanda menguningnya semua bulir padi secara merata dan dapat ditandai dengan tidak adanya air yang keluar pada bulir saat di gigit. Pengalaman pada teknik SRI ini pemasakan bulir padi lebih cepat dan bulir padi lebih padat. Tanda tanda masa panen pada umumnya sama dengan teknik pengolahan lahan secara konvensional namun yang membedakan hanyalah masa panen dan jumlah bulir yang lebih menguntungkan jika dibandingkan dengan pengolahan lahan secara SRI.

3.3 Pengolahan Air pada lahan Sawah gambut
Reklamasi lahan rawa adalah suatu upaya pemanfaatan lahan rawa yang telah diusahakan untuk usaha pertanian melalui perbaikan prasarana dan sarana pertanian di kawasan tersebut sehingga meningkatkan luas areal tanam dan produktivitas lahan
kegiatan optimasi lahan terdiri dari kegiatan penyiapan lahan dan penyediaan sarana
produksi. Penyiapan lahan terdiri dari kegiatan pembukaan lahan, pembersihan lahan dan pengolahan lahan sampai kondisi siap tanam, perbaikan sarana dan prasarana yang diperlukan (gorong-gorong, talang air, embung, pompanisasi dan saluran drainase) serta perbaikan kesuburan lahan.
Lahan gambut adalah salah satu jenis lahan rawa yang selalu jenuh air tau tergenang, kondisi demikian menjadikan lahan gambut sulit untuk dikembangkan sebagai lahan pertanian. Salah satu factor kunci keberhasilan pengembangan pertanian di lahan gambut selain meningkatkan kesuburan adalah mengendaliakn tinggi muka air di dalamnya sehingga gambut tetap basah tetapi tidak tergenang di musim hujan dan tidak kering di musim kemarau pengaturan tinggi muka air yang tepat juga dimaksudkan agar proses pencucian bahan beracun berjalan dengan lancer sehingga tercipta media tumbuh yang baik bagi tanaman.
Sebagai salah satu jenis lahan rawa keberadaan air di lahan gambut sangat dipengaruhi oleh adanya hujan dan pasang surut luapan air sungai hal ini berpengaruh pada perilaku genangan air yang ada. Kendala pertanian di lahan gambut lainnya adalah tingginya zat beracun atau asam kuat yang berasal dari teroksidasinya parit dan pengatur keberadaan air sehingga tanaman dapat tumbuh dengan baik.
Adapun teknologi yang dapat digynakan dalam pengolahan air di lahan gambut yang dapat dijadikan alternative dalam mengurangi permasalahan di lahan gambut adalah pembuatan parit dengan tujuan :
Mengendalikan keberadaan air tanah di lahan gambut sesuai dengan kebutuhan tanaman yang akan dibudidayakan artinya, gambut tudak menjadi kering di musim kemarau dan tidak tergenang di mysim hujan hal ini dapat dicapai melalyu pembuatan pintu air (Flapgate) yang dapat mengatur tinggi muka air tanah gambut sekaligus menahann air yang keluar dari lahan.
Mencuci asam-asam organic dan anorganik serta senyawa lainnya yang bersifat racun terhadap tanaman dan mamasukan air segar untuk memberikan oksigen
Memanfaatkan keberadaan air di dalam saluran sebagai media budidaya ikan baikbudidaya aktuf ( dimana benih ikan ditebarkan di dalanm saluran) maupun budidaya pasif ( dimana parit/saluran digunakan sebagai perangkap ikan ketika sungai disekitarnya meluap) selain itu keberadaan air dalam parit akan berfungsi sebagai sekat bakar yang dapat mencegah terjadinya kebakaran di lahan gambut.
Sebagai hasil transfortasi dasil panen

System saluran air yang digunakan dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1. System parit/ kendi di tepi sungai, dibuat pada pinggir sungai yang mengaraha tegak lurus ke arah daratan di kiri dan kanan parit dibuat daratan-daratan sebagai pematang yang umumnya di buta sebagai jalan. Parit di buat secara bertahap dan diselaraskan dengan kondisi perubahan lahan, pengaruh perubahan lahan, pasang surut ( kedalaman muka air) dan ketebalan gambut.
2. System saluran model garpu dilahan pasang surut , cara ini dilakukan dengan dibuat pintu-pintu air yang disebut dengan Flapgate yaitu pintu air yang ketika pasang air akan mendorong pintu sehingga air dapat masuk ke dalam parit-parit petahan lahan. Struktur tinggi operasional pintu-pintu air tersebut di sesuaikan dengan penggunaan lahannya, apakanh untuk sawah, surjan atau lahan garpu.


III. PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pengelolaan lahan sawah dapat dilakukan dengan cara :
 Pengolaan lahan sawah ramah lingkungan berbass bahan organic dan alat mekanisasi pertanian
 Pengolahan lahan sawah melalui teknik SRI
 Pengolahan lahan sawah gambut dengan teknik drainase.

3.2 Saran
Sebaiknya dalam melakukan pengolahan lahan sawah memperhatikan aspek ekologis lingkungan sehingga ketersediaan hara dalam tanah tetap terjaga dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar