Oleh : Supriadi
Anggun, kau begitu mempesona…. Menelisik sanubari yang tawar… dalam diam hanya terbayang senyummu… wahai wanita impianku.
Masyita aku rindu senyum manismu……
*****
Cinta tak mengenal perbedaan……. Miskin kaya, hitam putih akan berpadu dalam satu ikatan kuat. Cinta seperti menyatukan ikan dan kunyit menyatu dalam satu rasa yang melupakan asal muasalnya. Begitulah kata masyita. Gadis ayu, cerdas tak pernah larut dalam kesombongan.
Kini ia tak pernah lagi menampakkan alisnya yang tebal. Tak pernah lagi menghiasi warna pulau Ambon dengan rambut ikalnya, dua tahun silam ia telah mencari peraduan nasibnya, ke pulau Sulawesi Menjadi seorang mahasiswa, meskipun tak pasti akan ke mana masa depannya diarahkan.
aku goyah ia akan pergi untuk selamanya, meninggalkan puing kasih sayang yang ia semaikan dalam hatiku. Aku semakin rebah dalam asaku, aku hanyalah seorang pelayar yang menyusuri laut setiap hari menjadi seorang pengemudi spet boat, menjadi pelayan masyarakat pulau kecil yang ada di Maluku. Upah 25 ribu cukuplah untuk biaya mengendarai perahu.
“Pelau…, Pelau”1)
Terdengar suara merdu dari arah darat….
“Beta seng Ke Pelau?2), sudah malam takut ada bahaya,”
Sambil mengarahkan perahu mendekati seorang wanita bercadar. Dengan baju dan rok yang hampir tertutupi dengan kerudung yang dikenakannya, terpadu dalam satu warna coklat gelap.
“Ayolah abang, Ose seng mau3) bantu temanmu ini.
ini Masyita”. Sambil membuka cadarnya,
aku seperti terkaget durian runtuh, sepertinya aku baru saja menghayalkan wajah anggun masyita.
Tanpa berfikir panjang, Ayolah katong4) berangkat sekarang…..
Sejam mengarungi laut, menentang ombak laut, aku berbicara sendiri. Meskipun ada masyita dan seorang pengemudi lagi yang menemaniku…
Masyita kau sudah berubah?
Kau tak mau memberiku kesempatan untuk menatap wajahmu? Dan akan aku katakana aku Mencintaimu. Tapi? Kau seorang mahasiswa dan aku bukan? Aku melirik Masyita. Tapi sepertinya ia tak mau menatapku… Hingga semakin banyak pertanyaan dalam hatiku, bibir ini bungkam…… Aku hanya terikut gelisah dari gerik Masyita yang sedang kacau dengan jubahnya, seperti meronta dalam pakaian besar yang menutupi tubuhnya.
Ose kenapa?, kupaksakan untuk bertanya
Mama sedang sakit parah sekarang…… seperti mematahkan arah pembicaraanku dengan perkataannya yang bernada mematikan.
Hingga akhirnya kami sampai ke pulau hanya satu kalimat yang sempat keyantakan ke masyita. Deru angin yang berlalu menyisakan begitu banyak sesal dan kesal. Sesal lidah ini terikat kekakuan kesal akan diriku yang bukan apa-apa.
Aku rendah di hadapanmu Masyita, karena aku bukan apa-apa, kita jauh berbeda…
*****
Pasir-pasir ambon masih lembab denga embun yang menemaninya. Planton-planton mungil masih melayang dipermukaan menanti ikan-ikan berenang ke pingggiran untuk menjamunya…..
Huuuu, huuuu
Suara itu muncul menerpah gendang telinga bagi pendengarnya, seperti meruntuhkan semangat pagi yang berusaha dibangunnya. Serempak kedua bola mataku mengarah ke atas bukit yang berbatu tajam dengan karang-karang gunung yang menusuk para pelalunya. Sekumpulan orang yang memakai pengikat kepala putih dan sarung putih sebagai bidaknya seperti menggiring seseorang yang ingin dilempar ke lautan lepas. Kucucurkan kakiku melangkah ketepian pantai,,,, resah kian bergelora ingin menyaksikan kejadian yang tak biasa ini.
Masyita,… Masyita??, hatiku mencoba meyakinkan?
Tapi aku tak yakin, seminggu yang lalu ketika aku mengantarnya menuju pulau kecil ini ia masih berkerudung besar, Tapi, tapi rambutnya kini terurai acak. Ada apa dengan Masyita?
Langkah wanita itu kian mendekat Menyusuri pasir yang masih tenang, tanpa angin yang sanggup meliuhkannya… tolong saya bang kita berangkat sekarang… serunya dengan nada seperti sakit parah. Tercekat, dengan air mata yang berdegup dentuman mendekati mati.
*****
Aku terus menunggangi perahu dengan kecepatan tinggi membawa masyita lari dari keramaian orang-orang pelau. Panasnya mentari seperti bias yang tak terasa, aku ingin berkata yang berlalu cepat, ingin kusambarkan Tanya yang bisa tertangkis cepat oleh masyita.
Ose kenapa diusir dari pelau?
Beta dianggap sesat,….
Hanya karena kau berkerudung besar?
Beta juga hamil bang, tanpa suami…
Apa????
Kau hamil? Tanpa Suami?
Ya bang, tapi aku tak sengaja bang, Aku hanya korban.. bang… dengan cucuran air matanya.. orang kampong mengira aku penganut ajaran baru yang menghalalkan wanita dan laki-laki bercampur….
Tapi siapa yang melakukannya, siapa lelaki yang tega itu,??? Dengan suara nada tercekat yang keluar dari leherku
Aku tak tahu bang,,, dengan derai air mata yang semakin deras. Mendayu bersama derasnya ombak yang sedang kami lalui.
Tapi kau bercadar masyita, kau menutup aurat. Kembali aku bicara setelah kami sempat merenung panjang.
Ya bang aku memang bercadar tapi ini baru tiga bulan setelah kejadian pahit itu. aku sadar bahwa ternyata kemolekan tubuhku adalah pemancung nafsu syetan, dan akhirnya aku memutuskan untuk menutup seluruh lekuk tubuhku. Ucapnya dengan nada serak dan kata yang seperti terpatahkan di leher,….
Masyita seandainya kutahu siapa lelaki itu akan kubunuh dia, dia begitu tega. Dia binatang,… dengan mataku yang berkaca-kaca,…
“Abang, maafkan aku,….
Biarlah aku menanggung aib ini, aku terlalu bebas, biarkan aku mencari jalanku sendiri” ia kemudian berlalu, lenyap dari pelabuhan ini, dan mencari mobil. Angkutan ke kota. Sementara aku masih disini di atas perahu peraduan nasibku. Hatiku seperti pilu yang ingin ikut berlari tapi ruh ini tetap tak goyah pada apa yang ia ingini. Masih banyak bintang yang bisa menerangi hidupku
Apakah aku mencintai masyita? Mengapa aku tak mengajakmu menikah? Akh, atau aku aku sama dengan lelaki lain yang mencari wanita Suci yang masih sakral dengan kewanitaan yang dimilikinya?....
Cinta kan kucari, entah di dermaga mana ia kan berlabu. Seperti jamur yang tak jelas
kemana ia kan muncul. Karena cinta hanya butuh kondisi yang membuat ia nyaman, dan ia kan tumbuh tanpa malu, tanpa paksaan.
*****
1) pelau : Nama tempat, sebuah pulau kecil
2) Beta seng Ke Pelau?(Ambon) : saya tidak berangkat ke Pelau; Beta: saya, Seng: tidak
3) ose seng mau (Ambon): kamu tidak mau; ose: kamu
4) katong(Ambon) : Kita
Penulis adalah mahasiswa Fakultas Pertanian Unhas
Ketua FLP Ranting Unhas
GOOD .... bahasanya puitis sekali bela ...mengajak berlayar di dunia sastra ...
BalasHapussekedar menulis. karya ini adalah karya yang saya tulis. di awal bergabung di FLP
BalasHapus