Selasa, 14 September 2010

Pemenang Pertama pada loma Essay Surau Firdaus ( TRi Mardiana FK 09)



ISLAM, OASE DI SAHARA
Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.
Teroris, merendahkan wanita, agama kekerasan dan masih banyak lagi cacian yang dilontarkan oleh penduduk dunia non muslim mengenai Islam tatkala peristiwa 11 september terjadi, ketika mereka melihat seorang wanita mengenakan jilbab, saat ormas-ormas Islam menghancurkan tempat-tempat yang dianggap maksiat, tetapi diantara orang-orang yang mengutuk itu semua justru terbersit rasa ingin tahu, singgah rasa penasaran apakah Islam memang seperti yang mereka lihat, seperti apakah Islam sebenarnya, mengapa pemeluknya dengan rela mati demi agama itu. Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan tetap menjadi tanda tanya seandainya mereka tak mencoba untuk meraba.
Islam bagi pemeluk Islam sendiri tentunya sebuah agama yang mengajarkan kebaikan, memberikan kedamaian, dan jalan dari Tuhan tetapi jika bagi pemeluk agama lain??? Ketika kita menggunakan sudut pandang kita maka kita tahu bahwa islam seperti apa tetapi, ketika kita menggunakan sudut pandang secara umum dalam artian kita bukan seorang muslim, nasrani, atau pun yahudi apakah kita masih mengganggap Islam itu baik dengan semua berita miring tentang Islam atau kita justru ikut menghujat seperti yang dilakukan yahudi dan nasrani???
Islam dalam kaca mata dunia bagaikan oase dalam sahara, semua orang tahu bahwa saat ini Israel terus-menerus menekan Palestina, siapa yang tidak ingat dengan penyerangan Amerika terhadap Irak dan perlawanannya terhadap pengembangan teknologi nuklir Iran, serta pengiriman pasukan tambahannya ke Afganistan namun, semua orang juga tahu bahwa kini perkembangan Islam di Amerika Serikat sendiri justru sangat pesat bahkan diperkirakan akan segera menggeser Yahudi sebagai agama dengan pemeluk terbanyak kedua setelah Kristen. Kita sebagai pemeluk Islam mungkin terkejut mendengar para saudari seiman kita yang berada di Prancis dilarang untuk memasuki lembaga-lembaga pendidikan hanya karena jilbab yang mereka kenakan namun, dunia lebih tercengang melihat keteguhan hati mereka memperjuangkan kebenaran. Heran, iya. Menganggap mereka bodoh, mungkin juga. Tetapi pasti ada yang semakin penasaran dengan tindakan muslimah-muslimah itu. Hal apakah yang mendorong mereka tak takut dengan peraturan yang mengikat dan pemimpin yang memaksa.
Islam bagaikan oase di sahara. Walaupun panas terus berusaha mengalahkan semua yang ada di hadapannya, namun oase tetap bertahan untuk memberikan sebuah kehidupan bagi siapa saja yang mau singgah untuk meneguknya. Semakin panas sengatan matahari, oase itu akan semakin kokoh sebagai penolong dalam dahaga. Begitulah Islam dengan semua fitnah yang disematkan padanya, semakin ia dihujat oleh orang-orang yang dibutakan mata hatinya maka semakin banyak mata hati yang tertaik untuk mengetahuinya lebih dalam. Sebuah film yang dibuat oleh orang Belanda untuk mempropaganda Islam justru menjadikan negara itu sebagai ladang subur tumbuhnya semangat-semangat islam yang baru. Pepatah yang mengatakan bahwa kebenaran akan selalu menang memang sangat pas dengan situasi ini, orang-orang yang melontarkan oponi-opini hitam itu bagaikan memakan buah simalakama.
Kalau langit memiliki mata maka ia akan tercengang-cengang melihat perkembangan Islam yang semakin pesat, jika bumi memiliki telinga maka ia akan mengangguk mendengar teori-teori para ilmuwan yang ternyata telah dibuktikan dalam Al-Quran. Potongan-potongan pazel itu kini sedang disatukan, bagian-bagian kosongnya perlahan-lahan mulai terisi.
Rasanya saat ini saya ingin berdiri di puncah mount Everest dan berteriak pada dunia bahwa inilah Islam yang sebenarnya, inilah Islam yang selalu kalian hujat, inilah Islam yang mungkin tak kau anggap. Inilah Islam yang pemeluknya kau anggap sesat. Inilah islam yang ternyata semakin kalian hantam, semangat pemeluknya akan semakin dalam tertancap pada setiap tetes darah dalam nadinya, takbirnya akan selalu menggema dalam katup jantungnya, kekuatan akan terkumpul dalam otot-ototnya.
Satu bagian dari oase ini yang tidak dapat dipisahkan kini menjadi sorotan kala teori-teori yang dilontarkan justru hanya membuktikan kesahihannya. Al-Quran, masih adakah yang berani mengatakan bahwa Al-Quran hanyalah bualan Nabi Muhammad kala teori Big Bang yang ada kini hanya membenarkan apa yang ada di dalamnya, masih adakah yang bisa mengatakan Al-Quran hanyalah rekayasa manusia jika penelitian yang dilakukan oleh seorang ilmuwan Prancis justru hanya membuktikan bahwa Fir’aun memang tenggelam dalam laut dan kini tetap utuh sebagai suatu tanda kebesaran Allah. Masih adakah yang merasa lebih pintar tatkala satu kata dalam Al-Quran saja mampu memberikan penjelasan yang begitu akurat tentang penciptaan manusia. Harus berapa kali lagi ayat-ayat itu dibuktikan sehingga dunia benar-benar mengaku kalah pada agama yang satu ini.
Kini Islam perlahan mulai kembali menapaki kejayaannya, menelusuri lika-liku problema yang berujung pada cahaya. Menjadikan orang-orang yang buta kembali melihat dunia, menjadikan orang-orang yang tuli kembali mendengar kebenaran. Islam bukan agama yang mengajarkan kita untuk menjadi seorang teroris karena islam mengajarkan kasih syang untuk semua insan. Islam bukan agama yang mengekang setiap wanita tetapi, justru menjaga mereka karena Islam sadar seorang wanita itu sangat berharga. Islam bukanlah agama yang menyeru kita berbuat semau kita karena Islam juga mengajarkan hukum-hukum yang harus kita patuhi dalam menjalani hidup ini.
Semua hujatan, cacian, dan makian yang dunia lontarkan hanya akan menunjukkan bahwa Islam lebih kuat dari batu karang, lebih jernih dari air bening, lebih terang dari semua bintang, dan lebih benar dari semua yang dianggap benar.
Jika semua kunci telah dibuka dan saat semua lampu telah menyala. Mengapa harus tetap terdiam dan terpaku bagaikan patung. Sebagai bagian dari dunia yang menyaksikan saya akan menyatakan bahwa tidak ada keraguan, tidak ada kebohongan. Kalau di depan kita telah ada jalan keluar kenapa kita harus mencari jalan lain padahal kita tahu bahwa jalan yang lain justru akan membuat kita tersesat. Dalam setiap pergantian siang dan malam Allah telah memperlihatkan kebesarannya pada kita. Kalau dunia masih meragukan semua kenyataan yang terlihat mungkin kaca mata yang digunakan salah, atau minusnya sudah bertambah sehingga sulit baginya bahkan untuk melihat kebenaran yang begitu jelas dan nyata.
Sadar atau tidak sadar pandangan-pandangan yang kabur itu memang disebabkan kabut-kabut yang melayang, yang mengambang di hadapan umat islam. Terkadang kita lalai, salah bertindak, keliru mengambil keputusan, bahkan dalam mengartikan sebuah kebenaran. Sebagai musafir di gurun yang telah meneguk setangkup air dari oase ini, kita harus memanfaatkan dengan baik setiap tetes kehidupan yang ia berikan. Kita harus menunjukkan bahwa kita bukanlah domba-domba yang sedang tersesat tetapi kita adalah manusia yang dengan semua ajaran agama yang kita punya mampu membantu orang lain keluar dari kekeliruan mereka.
Hidup sebagai seorang muslim adalah perjuangan, perjuangan menggapai keridhoan Ilahi melalui penegakan terhadap agama yang dianugerakan kepada kita. Saya, dia, Anda dan mereka sekarang sedang menjadi saksi-saksi sejarah akan sebuah ketidakadilan yang berujung pada sebuah pencarian. Pilihan kita semua hanya dua yaitu tetap duduk, diam, dan menyaksikan tanpa bantahan atau berdiri dan maju walau selangkah menjadi bagian untuk sebuah perubahan ke arah kebaikan sehingga kaca mata itu bisa pecah, hingga cermin yang gelap itu bisa musnah, hingga kegelapan itu bisa punah. Saya bukan malaikat, dia bukan bidadari, dan Anda bukan peri tetapi kita semua adalah muslim yang kita bangga dengan agama kita, yang kita bangkit mendengar asma-Nya, yang kita bergetar mendengar firman-Nya. Jadi, mengapa kita harus tunduk pada tatapan sinis dunia, angkat kepala kita dan kepalkan tangan untuk sebuah takbir kemenangan. ALLAHU AKBAR

Tidak ada komentar:

Posting Komentar