Minggu, 05 September 2010

pemenag ketiga lomba ESSAy ( Bulqia mas'ud, FIB 2008)


Antara Kebangkitan Islam dan Ketakutan Global
Oleh Bulqia Mas’ud

Kebudayaan global terjadi karena proses globalisasi. Global dan globalisasi bagai akar dan tanaman. Globalisasi lahir dari kata global yang artinya universal. Tanpa batas ruang dan waktu. Tatanan global adalah cerminan mayoritas masyarakat yang mendiaminya. Dengan kata lain kebudayaan global pasti ditentukan oleh kebudayaan mayoritas masyarakatnya. Ketika mata, tak dapat melihat, telinga tak dapat mendengar, kita masih tetap bisa merasakan arus globalisasi. Karena dunia global tidak sebesar dan sejauh seperti yang kita pikir. Ia begitu dekat dengan kita. Terjadi di sekeliling kita. Bahkan bisa kita rasakan mengalir dalam tubuh. Mengelus atapun menggigit tubuh kita. Selama dunia yang kau pijak adalah sama. Maka kita adalah bagian dari dunia itu. Dunia tanpa batas ruang dan waktu.
Coba review kembali pelajaran agama yang pernah kita pelajari atau kita baca, utamanya mengenai Shiroh Nabawiyah. Dunia global telah terbentuk ketika rasulullah mulai mendakwahkan islam. Dan dakwah islam itu pun dilanjutkan oleh para sahabat dan generasi setelah para sahabat. Hingga sampai ke tanah air, Indonesia. Bukankah kita sudah mengenal zaman keemasan islam? Dimana 2/3 wilayah bumi dikuasai dengan penduduk terbesar adalah umat islam. Inilah yang saya maksudkan globalisasi bernafaskan islam. Agama Allah tersebar ke seluruh penjuru dunia.
Cerminan Masyarakat Global
Saat ini masyarakat global didominasi oleh non-muslim. Umat islam justru tergolong minoritas. Keminoritasan itu bermula ketika pundi-pundi agama islam mulai surut dengan berbagai konspirasi kaum kafir. Seiring bertambahnya waktu, ketika cahaya islam semakin redup, maka muncullah sistem yang dikuasai oleh kaum kafir (baca: barat). Sistem itu kemudian mengglobal atau biasa kita sebut dengan kapitalisme, seperti sekarang ini,
Globalisasi yang bermula dari negara barat itu semakin merambah ke negeri-negeri lain utamanya negeri-negeri muslim. Nafas globalisasi semakin tercium dengan arus media informasi yang serba terbuka dan mendominasi kehidupan. Penguasaan teknologi juga turut andil dalam menciptakan kehidupan global yang hedonistik dan sekularistik seperti sekarang ini. Semuanya masih dalam kendali orang-orang kafir (baca:barat) yang membenci islam.
Kehidupan semakin jauh dari aturan islam. Negeri-negeri muslim pun dicecoki dengan pemikiran-pemikiran dan budaya-budaya sarat budaya barat. Tak ayal, seluruh dunia hampir merasakan gerusan globalisasi merusak ini. Generasi islam pun terwarnai dengan budaya barat. Anak-anak muda lebih menyukai musik pop, R & B, hip hop ala barat dengan syair-syair yang mengundang birahi ketimbang nasyid yang mengagungkan Allah. Mayoritas generasi muda islam juga lebih mengikuti trend fashion ala barat yang serba terbuka ketimbang mengikuti pakaian yang disyariatkan agamanya. Bacaan-bacaan dan tontonan-tontonan ala barat pun berseliweran dan digemari masyakat muslim.
Gejolak Islamophobia
Seperti yang disinyalir oleh Francis Fukuyama dalam bukunya The End of History bahwa benturan antara Kapitalisme dan Sosialisme telah berakhir. Dan dunia semata-semata akan dikuasai oleh sistem Kapitalisme. Dalam referensi lain menurut Samuel P. Huntington seorang Profesor ilmu politik di Universitas Harvad yang terkenal dengan bukunya The Class of Civilitation and The Remaking of World Order mempredikisi bahwa pasca runtuhnya sosialisme, musuh barat ialah islam. Masih ingatkah kita dengan tragedi 11 September 2001? peristiwa runtuhnya gedung WTC. Lagi-lagi yang tertuduh adalah islam. Islam dianggap agama teroris. Islam dianggap agama yang kejam. Islam dianggap agama kekerasan dengan konsep jihadnya. Semuanya terbungkus rapi seperti sebuah ledakan bom yang siap membumihanguskan masyarakat barat. Akhirnya timbullah ketakutan akan islam.
Pasca serangan itu munculah sindrom ketakutan akan islam atau biasa kita kenal dengan sebutan islamophobia. Wacana-wacana negatif tentang islam pun datang silih berganti. Seharusnya agama ini jatuh sebagai hujan yang membawa berkah, malah hujan itu adalah batu di mata mereka. Masyarakat barat akhirnya secara tegas menyatakan kebenciannya kepada islam. Propaganda-propaganda pun muncul untuk semakin menyudutkan islam.
Sindrom islamophobia pun semakin mewabah dengan banyaknya peraturan pelarangan jilbab, cadar, burqa dan sebagainya di negeri-negeri eropa. Jerman, Prancis, Belanda, Denmark dan lainnya semakin khawatir dengan atribut-atribut islam yang mulai menjamur di wilayah mereka. Pembangunan menara mesjid pun semakin terganjal batu sandungan. Pembuatan-pembuatan film yang menistakan Al Qur’an, pembuatan karikatur dan kartun Rasulullah adalah jelas bukti kebencian mereka.
Sindrom ini malah semakin mengakar pada masyarakat barat. Baru-baru ini, peristiwa paling menyulut kemarahan umat islam ialah kampanye gerakan hari pembakaran Al Qur’an sedunia, yang jatuh pada tanggal 9 september 2010. Gerakan ini diserukan oleh sebuah gereja perjanjian baru di florida AS. Dan Amerika Serikat dinobatkan menjadi tuan rumah gerakan pembakaran tersebut. Hari pembakaran internasional ini dalam memperingati 9 tahun tragedi serangan 11 September 2010.
Tak kurang dari itu, industri informasi juga mengeksiskan gerakan islamophobia ini. Penguasaan teknologi menjadi alat oleh masyarakat barat dalam mendukung untuk pencitraburukkan islam. Dan media menjadi salah satu lahan subur untuk menyebarkan pemikiran dan budaya barat. Bagi yang sering menggunakan fasilitas jejaring facebook, pasti tak ketinggalan informasi mengenai lomba menggambar karikatur rasulullah. Lebih dari 40.000 facebooker meng-klik confirm. Atau terbaru mengenai rencana hari pembakaran Al Qur’an. Tak kurang dari 1500 anggotanya mengklik tombol “Like’ di facebook. Dunia global sedang dalam kebencian dan ketakutan luar biasa terhadap islam.
Namun, semakin menggejolaknya islamophobia, justru pertumbuhan penduduk muslim di negara-negara Eropa dan Amerika tak sejalan. Penduduk muslim justru semakin meningkat dari tahun ke tahun. Penambahan tersebut antara lain karena banyaknya imigran muslim yang datang ke negara-negara Eropa dan Amerika, berkembang biak dengan jumlah yang banyak, serta banyak mendirikan pusat-pusat pembelajaran islam. Meningkatnya angka kelahiran muslim di Benua Biru membuat perubahan demografi yang besar di benua tersebut. Dan sangat kontras dengan penduduk asli mereka yang angka kelahirannya sangat kecil. Diperkirakan tahun 2050 benua Eropa akan menjadi benua islam terbesar di dunia.
Mengawali kebangkitan Islam
Berbagai fakta yang telah kita telisik mengenai islam di kehidupan global ini, maka tak ada salahnya kita sebagai generasi muslim turut andil untuk membumikan agama kita seperti sedia kalanya. Ada berbagai cara yang dapat kita tempuh sebagai generasi muda yang mewakilkan dirinya sebagai energi kehidupan agama, bangsa, dan negara. Tak ada yang dapat dilakukan selain berjuang di jalan dakwah. Salah satu caranya ialah mengopinikan islam bahwa islam bukan sekedar agama spiritual belaka. Namun islam berbeda dengan agama-agama lain. Islam memiliki seperangkat aturan yang 70 % dari Al Qur’an bisa dipakai dalam kehidupan bernegara. Islam adalah agama yang lengkap yang mampu menjawab semua permasalahan hidup.
Setiap elemen masyarakat islam, ormas-ormas islam, bersatu untuk mewujudkan peradaban islam, yakni mewujudkan peradaban global yang sesuai aturan Allah. Menciptakan globalisasi bernafas islam ke seluruh dunia. Mengikis kebudayaan global sekarang ini. Merentaskan kekelaman zaman. Adakah kau lihat masa depan yang begitu indah di bawah naungan islam? Mudah-mudahan kita bisa merasakannya.
Pemuda islam juga seharusnya semakin menampakkan eksistensinya dalam mengawal peradaban islami. Mencetak kader-kader dakwah yang kompetitif, mendidik generasi islam untuk berprestasi demi mewujudkan generasi yang unggul, baik dalam hal spiritual, berwawasan luas, kritis, penguasaan teknologi dll.
Akhirnya kita kembali bahwa islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin memang diturunkan untuk seluruh penjuru dunia. Dan keimanan kita dipertanyakan sebagai seorang muslim jikalau kita tidak yakin islam akan berjaya kembali. Kemunduran islam saat ini dengan berbagai propaganda dan fitnah-fitnah dari kaum kafir merupakan hal yang nyata telah tertuang dalam Al Qur’an. Maka kita tak perlu ragu kalau itu adalah keniscayaan sejarah.
Kehidupan global sekarang memang mengalami ketakutan besar akan islam. Yang lebih mereka takutkan adalah kebangkitan islam. Dunia global sedang berada dalam transisi kemunduran. Dinding-dindingnya mulai bergetar dan meruntuhkan kerikil-kerikil kecil. Sementara jauh sebelumnya, bunga-bunga dan tanaman-tanaman penyejuk mulai tumbuh di sekitar kita. Tanaman-tanaman itu mulai tumbuh perlahan-perlahan menimbun kerikil-kerikil kecil yang juga runtuh perlahan-lahan. Tanaman itu pada akhirnya akan membesar mengokohkan islam di seluruh penjuru dunia. Oleh karenanya sebagai umat islam kita harus menyadari peran kita dalam agama kita. Ada atau pun tidak adanya kita. Islam akan tetap bangkit. Maka jangan memilih untuk menjadi penonton. Kita semua boleh berdiri pada barisan atau kendaraan yang berbeda, namun untuk tujuan yang sama. Wallâhu a'lam bi ash-shawâb.
Aktivis Forum Lingkar Pena Ranting Unhas
Mahasiswa Sastra Inggris Angkatan 2008


Tidak ada komentar:

Posting Komentar